Aku dan kamu bagai delik
Yang bukan aduan.
Tetap melirik
Walau tak ada keberanian.
Potret malu tertinggal pada jejak kaki
Yang berserak di lantai dekat dinding.
Debu-debu terpatri memaki
Sebab melirik saja tak sebanding dengan bertanding.
Aku suka kamu
Tapi mengumpat malu-malu.
Aku suka kamu
Tapi lidah kelu, membisu.
Ingin rasanya berjabat tangan
Dengan keberanian.
Namun dada terus berdegup
Tak sanggup menutup gugup.
Aku
masih suka kamu.
Aku
Tak mampu melawan malu.
Bekasi, 4 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar