Ada beberapa hal yang sangat aku takutkan
selain kematian. Yaitu perpisahan dan kenangan.
Bagaimana
mungkin kita bisa membuat kenangan, lalu menghancurkannya dengan perlahan?
Menghancurkan kenangan tak ada bedanya dengan menghancurkan peradaban. Hanya penyampaiannya
saja yang sedikit halus. Penggunaan eufemisme yang tepat, menurutnya.
Pun
dengan perpisahan. Untaian kata ‘selamanya’ tak pernah jujur. Kata ‘selamanya’
hanya digunakan oleh mereka para pembohong sejati.
“Aku.
Kamu. Selamanya. Bahkan Bencana alam tak dapat memisahkan kita”
Sekali
lagi, ‘selamanya’ juga termasuk eufemisme. Eufemisme dari kata perpisahan.
Aku
ndak bermaksud menyinggung siapapun, tapi menurutku, pembohong sejati adalah
pemilik eufemisme yang handal.
Aku
benci dengan permainan kata. Kata selalu menipu.
Selalu.
Aku
hampir mati dibuatnya.
Bekasi, 26 Desember 2014.
Dariku, penerima makna eufemisme yang payah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar