Untukmu,
wanita pemilik mata sayu. Balaslah ucapan salamku. Balas, walau hanya melalui
matamu.
Sabtu sore di bulan Juni, aku datang
ke rumahmu, menemui seorang wanita yang sangat ramah, kebaikan penuh toleransi.
Wanita yang biasa kau panggil ‘ibu’ itu dapatkah suatu saat nanti kupanggil ‘ibu’ juga? Ibu dalam arti harfiah. Ibu. Cukup Ibu. Tak ada tambahan kata
lain. Tak ada nama di belakangnya.
Lelaki payah sepertiku hanya bisa
mengagumimu dalam jarak yang sangat jauh--jarak dimana kejujuran dan kasih
sayang tak bisa saling menyatu. Padahal, kamu pun tau, kita sudah
bertahun-tahun bersama, tapi rasa malu masih terus memelukku. Jenis pelukkan yang
sulit untuk dilepaskan.
Pelukkan yang mengubur asaku untuk hidup bersamamu.
Hai, wanita pemilik mata sayu.
Haruskah aku memaksakan diri untuk lepas dari pelukan rasa malu, demi
mendapat pelukan penuh kasih sayang dari gadis semanis kamu?
Haruskah?
Bekasi,
25 Desember 2014.
Dariku, yang rindu akan pelukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar