Jumat, 26 Desember 2014

# Haruskah, Sayang?

       Untukmu, wanita pemilik mata sayu. Balaslah ucapan salamku. Balas, walau hanya melalui matamu.

          Sabtu sore di bulan Juni, aku datang ke rumahmu, menemui seorang wanita yang sangat ramah, kebaikan penuh toleransi. Wanita yang biasa kau panggil ‘ibu’ itu dapatkah suatu saat nanti kupanggil ‘ibu’ juga? Ibu dalam arti harfiah. Ibu. Cukup Ibu. Tak ada tambahan kata lain. Tak ada nama di belakangnya.

          Lelaki payah sepertiku hanya bisa mengagumimu dalam jarak yang sangat jauh--jarak dimana kejujuran dan kasih sayang tak bisa saling menyatu. Padahal, kamu pun tau, kita sudah bertahun-tahun bersama, tapi rasa malu masih terus memelukku. Jenis pelukkan yang sulit untuk dilepaskan.

          Pelukkan yang mengubur asaku untuk hidup bersamamu.

          Hai, wanita pemilik mata sayu. Haruskah aku memaksakan diri untuk lepas dari pelukan rasa malu, demi mendapat pelukan penuh kasih sayang dari gadis semanis kamu?

          Haruskah?

         
Bekasi, 25 Desember 2014.
Dariku, yang rindu akan pelukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar