Pernah, suatu ketika, ada seorang lelaki yang memelukmu di ruang dapur. Dan ketika peralatan masakmu terjatuh dan berserak di atas lantai, lelaki itu meraihnya dengan satu tangan—karena satu tangan lainnya masih setia memelukmu, erat.
Suatu ketika, ada seorang lelaki yang menyusun kartu UNO menjadi tumpukan tertinggi. Kemudian dia tersenyum dan berkata jika permainan itu tampak membosankan tanpa hadirmu di hadapnya.
Suatu ketika, ada seorang lelaki yang menulis tahapan wacana hidup hingga satu dekade ke depan. Dari tiga puluh garis rencana, namamu dia tulis dalam dua puluh sembilan garis.
Suatu ketika, ada seorang lelaki yang telat berangkat kuliah, namun dia masih menyempatkan diri untuk sembahyang duha dan menyebut namamu dalam do’a—hingga akhirnya dia gagal berangkat karena terlalu telat.
Suatu ketika, ada seorang lelaki yang menuju rumahmu tanpa kacamata, malam hari, dan buta jalan. Di persimpangan jalan rumahmu, dia salah mengambil arus dan tersesat hingga pagi datang. Namun, ketika ditanya kenapa lelaki itu tidak jadi hadir, dia menjawab: Karena aku malu bertemu ibumu.
Suatu ketika, ada seorang lelaki yang rela membolos demi mencari uang untuk membelikanmu hadiah. Dia berhasil membeli hadiah itu, namun dia gagal menyerahkannya padamu.
Suatu ketika, ada seorang lelaki yang menulis ini pada malam hari. Menatap sebuah monitor dengan mata berkaca-kaca. Tangan kanannya digunakan untuk mengetik dan tangan kirinya untuk menyeka mata.
Suatu ketika,
ada seorang lelaki,
yang berusaha menemukanmu,
melalui kalimat sederhana ini.
Lalu bertanya,
“Gadisku, masih bolehkah aku memelukmu di ruang dapur?”
Bekasi, 07 Agustus 2015
Dariku, lelaki yang senang bermanjaan di ruang dapur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar