Sabtu, 01 Agustus 2015

Sahabat dalam Diriku

Nama lengkapnya Wiki Flixiandino, namun akrab dipanggil Wiki.

Dia hanya seorang pria berusia 19 tahun yang lebih mencintai buku-bukunya ketimbang orang yang ada di sekitarnya.

Hidupnya sangat jauh dari eufemisme publik, karena menurutnya, eufemisme adalah kemunafikan para manusia yang dikemas dalam kemasan baru.

Dia sederhana dan merasa nyaman dengan posisinya.

Dia selalu bangun pukul tiga pagi dan memandang dirinya di depan cermin, berkhayal, apakah kelak di masa depan para kaum priayi memiliki wajah seperti ini?

Atau, mungkinkah saat keluarganya mengalami krisis, wajah seperti ini dapat meyakinkan sebuah instansi untuk merengkuhnya menjadi pemimpin sebuah organisasi?

Persetan,
pemimpin tidak tumbuh dari golongan introvert.

Mereka, para introvert, hanya membangun masa depannya di dalam kepala. Membangun semua konsep hebatnya di balik imajinasi.

Inovasi mereka memang nomer satu, tapi opini publik masih percaya, jika terang yang malu akan kalah saat bertemu gelap yang berani.

Ekstrovert memiliki ide yang terbatas, namun berani mengembangkannya.

Sedangkan introvert?

Selalu berjalan pada garis tubuhnya sendiri.
Berputar-putar di dalam ruang lama.
Dan terjebak pada pencurian ide masa depan.

Tapi aku percaya pada Wiki. Dia seorang inovator yang dapat berkembang. Seorang visioner yang dapat menyusun bongkahan bata kecil menjadi istana super megah. Dia, dan mimpinya, akan berkembang menjadi sosok yang kuat di tahun yang akan datang.

Seorang teman pernah berkata pada Wiki untuk merubah gaya penampilannya.

Kau lusuh, begitu kata temannya.

Tapi Wiki tidak peduli. Badannya yang sedikit kurus dibalut dengan kaos oblong dan celana jeans hitam yang lebih dari sebulan tidak bertemu butiran detergen. Dia berjalan menembus kerumunan, seakan-akan suatu saat nanti gaya berpakaiannya akan ditiru oleh seluruh mahasiswa di jagad raya.

Kata lusuh memang sudah melekat pada diri Wiki sejak duduk di bangku sekolah. Keluarganya tidak punya cukup banyak uang untuk membelikannya baju baru. Bahkan, beberapa pakaiannya adalah hasil hibahan dari sepupunya yang memiliki ekonomi lebih baik.

“Memang kau tidak malu?”

Kalimat itu selalu terucap oleh ibu dan ayahnya. Namun, lihat, apa yang dia jawab.

“Aku cuma malu kalau bodoh.”

Sekali lagi, Wiki lebih paham tentang konsep kehidupan. Menurutnya, pakaian tidak memberikan masa depan yang gemilang. Karena tanpa ilmu dan kecerdasan, pakaian bagus hanya terlihat seperti atribut tanpa arti.

Aku, sebagai teman dekatnya, selalu senang berbagi dengannya. Dia pendengar sekaligus pencerita yang baik. Bahkan, ketika aku ingin berjumpa dengannya, dia selalu mudah ditemukan.
Rumah, adalah satu-satunya tempat di mana ia selalu menghabiskan hari-harinya.

Dan di situlah tempat kami menghabiskan waktu berjam-jam demi sebuah diskusi tanpa tepi.

Sungguh, aku mengagumimu, Wiki. Seandainya kau berwujud, mungkin aku akan mengajakmu terbang jauh menuju North Carolina, USA—tempat di mana seorang Nicholas Sparks—penulis favoritmu—menceritakan seluruh karangan kisahnya.

Untuk temanku, Wiki Flixiandino, yang saat ini sedang berada di dalam ragaku. Jangan bersembunyi, gerakan persendian tubuhku untuk maju bersama ide brilianmu. Aku tau, kamu di dalam. Aku tau, kamu berbisik pada diriku yang lain. Aku tau, kau sedang memanfaatkan darahku untuk menulis sebuah wacana hidup. Aku tau, Wiki, aku tau, jika dirimu sebenarnya adalah aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar