Kudengar sebentar lagi usiamu bertambah. Cepat sekali. Padahal baru kemarin aku hadir untuk merayakan ulang tahunmu yang ke-18. Waktu berlalu dengan cepat. Lebih cepat dari yang kubayangkan sebelumnya. Dan kuharap kau masih ingat bahwa ada lelaki yang bermain gitar di bawah hujan. Bernyanyi. Dan kau mengira bahwa lelaki itu adalah pengamen.
Kau ingat?
Ibu menyuruhmu membawakanku uang. Memang, peduli kepada pengamen itu perlu. Tapi saat itu, aku bukan pengamen. Meski sebenarnya, kondisi dan penampilanku kala itu benar menyerupai pengamen.
Aku masuk ke dalam rumahmu, mencoba memberi kejutan dengan membawakanmu kue buatanku. “Tadi hujan deras,” ucapku dalam hati. “Pasti kuenya rusak.”
Aku membuka kotak kue. Sangat hati-hati hingga kau harus menunggunya lebih lama.
“Kuenya agak rusak,” kataku saat itu. “Maaf ya.”
Kamu tidak kecewa, apalagi marah. Aku suka caramu menahan tawa ketika menyadari ada hal ganjil di kue itu. “Kamu lupa umurku?”
“Kamu,” kataku. “18 tahun, kan?”
“Tapi lilin yang kamu taruh gak bilang gitu.”
Aku mengangkat kotak kue, mengeluarkan isinya sebelum aku pindahkan ke piring berukuran besar. “Oh iya,” kataku, menyadari sesuatu. “Kok 81 tahun sih?”
“Emang aku keliatan setua itu ya?”
Tidak, kamu tidak terlihat tua. sama sekali tidak. aku hanya keliru meletakkan lilin itu, keliru tidak berarti lupa, kan? Kalau aku tidak keliru, mungkin aku tidak akan melihat gelak tawamu. Semesta kadang menarik, mampu mengubah peristiwa dan menempatkannya pada ruang dan keadaan yang lebih baik.
Mungkin kau gagal mengingat peristiwa ini. Mungkin saja. Karena kebaikan ini telah digantikan oleh kebaikan baru yang lebih tinggi; yang lebih membuatmu bahagia. Aku tak ingin diingat, tapi juga tak ingin dilupa. Kau dalam genggaman pelindung baru. Dalam usia yang lebih dewasa, kau dalam rengkuh, kasih, dan sayangnya. Bahwa kau layak mendapat kebahagiaan ini. tentang usiamu, ulang tahunmu, dan kejutan yang dia berikan.
Maukah kau menceritakannya padaku?
Atau menulis sebuah surat dan kau titipkan pada kawanmu?
Jika kau menolaknya, tak apa. Aku tidak memaksa. Usiamu sudah dewasa, kau tau langkah apa yang harus dipilih.
Tentang ulang tahunmu, aku mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga kebaikan senantiasa menyapa. Dari pagi hingga malam dan dari malam hingga pagi, warna-warni kebahagiaan melebur dalam satu rasa. Kelak, bila kau benar-benar lupa denganku, kue itu akan mengingatkanmu, bahwa aku adalah lelaki pertama yang memberi ucapan ‘selamat ulang tahun ke-81’ padamu, di usia kita yang baru menginjak 18 tahun.
Bekasi, 5 Januari 2016.
Dariku, lelaki yang kau kira pengamen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar