Tulisan ini bakal random dan lepas dari kaidah penulisan yang baik dan benar. Aku nggak peduli. Karena yang kuingankan hanya menyampaikan perasaanku. Menulis, lalu lega.
Untuk gadisku, hari ini aku membuka kenangan kita. Terus menerus, hingga tenggelam. Aku senang tenggelam dalam kenangan. Karena hanya dalam kenangan, aku mampu menjadi perenang.
Aku menyusuri tahun-tahun kita dulu dan mendapati banyak jejak kaki yang belum terhapus ombak. Aku berenang dengan baik, sampai akhirnya waktu menyadarkanku, bahwa dunia ini sepi. Terlalu banyak orang yang ingin terlihat hebat. Topeng-topeng dikoleksi guna berjaga dari kondisi. Mereka saling tabrak untuk sampai titik puncak.
Namun tidak denganmu, sayang.
Kamu selalu tampil sederhana tanpa takut dihakimi. Kamu biarkan wajahmu tersapu sinar matahari, selagi wanita lain mengutuk panasnya kota ini. Kamu terus berhitung, selagi wanita lain menganggap bahwa matematika tidak lebih dari omong kosong. Kamu, entahlah, selalu menciptakan kutipanmu sendiri—belajar dari kesalahan masa lalu, tanpa harus mengoleksi kutipan orang lain.
Mandiri.
Kamu menolak bantuan orang lain, karena kamu mampu melakukannya sendiri. Dengan kepercayaan, kau patahkan prasangka-prasangka. Kau berdiri di bukit tertinggi, mengangkat tinggi-tinggi tanganmu, dengan wajah yang ditundukkan.
Kau tidak ingin orang lain mengetahui kehebatanmu, bukan?
Teruslah seperti itu; jangan pedulikan orang lain. Mereka hebat dengan usahanya masing-masing; ada yang mengalir, ada juga yang dipaksakan. Biarkan, itu mereka bukan kamu.
Karena kamu,
Tetap memesona dalam balutan sederhana.
Bekasi, 15 Januari 2016
Dariku, lelaki yang lebih senang menulis ketimbang berenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar