Kamis, 14 April 2016

Aku: Peniru Kamu, Berharap Temu.

Sosok Kelak menjelma bagi titik cahaya melambai ujung jauh
Ketika Rasa Takut terpaksa duduk terpangku lumut batu
Tersandar lelah dan gelisahnya
Pada teduh pandang pria bersahaja.

Muhammadku,
Seutas Andai bergelayut di lidah Para Pendo’a
Menggerung tersungkur tiap malam sebab ingin jumpa
Guyurkan cerita.

O, Muhammadku,
Aku ini jelmaan Kagum yang terbentur indah perangaimu
Diam-diam meniru
Getar bibir yang rangkai manis tuturmu.

O, Muhammadku,
Hembus angin malam, hembus
Menampar pipiku bagai tanya memaku:
“Mungkinkah aku sampai ke rengkuhmu?”

Dengan apa?
Bagaimana,
Bersama siapa?

Sebayaku bertingkah pongah,
Menentang; melawan.
Dikirimnya hujatan tajam menembus
Dadaku. Mematikan.

Kau yang dihujat.
Aku yang tersayat.

O, Muhammadku,
Bila sayat kepongahan mereka
Mematikanku,
Sudikah kau hadiahkan rengkuhmu?

Aku ingin menggali Islam.
Aku ingin dijemput dalam keadaan Islam.

Di lantai dua sebuah Masjid Besar, 2016.
Dariku, Peniru yang menanti Kelak dan Andai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar