Aku benci terpuruk. Rasanya seperti dilingkari orang banyak, lalu masing-masing dari mereka menggenggam sebuah batu dan bersiap-siap menghantamku.
Mengerikan.
Aku benci terpuruk.
Aku benci rindu sendirian.
Beringsut aku dalam lamunan masa lalu, sebab rinduku tak pernah sampai telingamu. Maluku menyulitkan. Untuk aku; untuk kamu. Beringsut tubuhku menuju persembunyian: tempat di mana aku menjeda rinduku bersama baris-tumpuk buku; perpustakaan. Namun setiap kali selesai membaca, astaga!
Ingat kamu lagi.
Tanpa berani bilang: rindu.
Memuncak rasa sepi.
Bekasi, 28 April 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar