Jumat, 12 Februari 2016

Lendir Di Mataku

Pagiku selalu sore
Siangku selalu sore
Namun malam
Tetap menjadi malam.

Tidak ada kantuk
Hanya cahaya mengutuk
Menolak masuk
Terhalang lendir di pelupuk.

Oh, hanya sekejap
Mataku gelap
Tak mampu mengerjap
Apalagi menatap.

Ibu menolak setuju
Bahwa lendir adalah guru
Yang mendidik mataku
Untuk terpejam sementara waktu.

Bekasi, 13 Februari 2016.
Dariku, pemilik mata berlendir.

Kamis, 21 Januari 2016

Numeralia

Aku suka sastra; kamu suka matematika.

Aku suka kata; kamu suka angka.

Numeralia.

Ketika kamu duduk menghadap papan tulis dengan rambut berantakan, aku menemukan kecerdasan tanpa tandingan. Bahwa kau sibuk dengan penjabaran, menulis angka dan memisahkannya dengan garis. Manis sekali. Wanita lain tidak memahami sisi keromantisan sebuah angka.

Katamu, persamaan dapat dipecahkan dengan logaritma. Tapi kamu tampil luar biasa ketika berkelit dengannya. Di atas meja, sobekan kertas berhambur. Telapak tanganmu penuh dengan goresan pulpen. Cantik sekali; kamu cantik ketika berdua dengan logaritma.

Numeralia.

Kamu ketus memandang soal kalkulus. Dengan keringat yang berkucur, kau patahkan penjabaran rumit. Notasi seperti makanan basi. Integral seperti latihan berhitung awal.

Numeralia.

Bahwa kau adalah sastra, yang bersemayam di balik angka.

Bekasi, 22 Januari 2016
Dariku, siswa yang tak pernah lulus matematika.

Jumat, 15 Januari 2016

Pesona dalam Sederhana

Tulisan ini bakal random dan lepas dari kaidah penulisan yang baik dan benar. Aku nggak peduli. Karena yang kuingankan hanya menyampaikan perasaanku. Menulis, lalu lega.

Untuk gadisku, hari ini aku membuka kenangan kita. Terus menerus, hingga tenggelam. Aku senang tenggelam dalam kenangan. Karena hanya dalam kenangan, aku mampu menjadi perenang.

Aku menyusuri tahun-tahun kita dulu dan mendapati banyak jejak kaki yang belum terhapus ombak. Aku berenang dengan baik, sampai akhirnya waktu menyadarkanku, bahwa dunia ini sepi. Terlalu banyak orang yang ingin terlihat hebat. Topeng-topeng dikoleksi guna berjaga dari kondisi. Mereka saling tabrak untuk sampai titik puncak.

Namun tidak denganmu, sayang.

Kamu selalu tampil sederhana tanpa takut dihakimi. Kamu biarkan wajahmu tersapu sinar matahari, selagi wanita lain mengutuk panasnya kota ini. Kamu terus berhitung, selagi wanita lain menganggap bahwa matematika tidak lebih dari omong kosong. Kamu, entahlah, selalu menciptakan kutipanmu sendiri—belajar dari kesalahan masa lalu, tanpa harus mengoleksi kutipan orang lain.

Mandiri.

Kamu menolak bantuan orang lain, karena kamu mampu melakukannya sendiri. Dengan kepercayaan, kau patahkan prasangka-prasangka. Kau berdiri di bukit tertinggi, mengangkat tinggi-tinggi tanganmu, dengan wajah yang ditundukkan.

Kau tidak ingin orang lain mengetahui kehebatanmu, bukan?

Teruslah seperti itu; jangan pedulikan orang lain. Mereka hebat dengan usahanya masing-masing; ada yang mengalir, ada juga yang dipaksakan. Biarkan, itu mereka bukan kamu.

Karena kamu,

Tetap memesona dalam balutan sederhana.

Bekasi, 15 Januari 2016
Dariku, lelaki yang lebih senang menulis ketimbang berenang.

Rabu, 06 Januari 2016

Surat Dariku, Untuk Diriku.

Perkenalkan, nama saya Dino, umur 24 tahun, dan berprofesi sebagai tukang kayu di Kalimantan Timur.

Bekerja di Kalimantan, membuat saya jauh dari teman dan keluarga. Hal ini yang menjadi alasan mengapa saya sering merenung dan membayangkan sosok teman saya di ibukota.

Namanya Wiki, tipikal pria sederhana yang selalu mengenakan kacamata.

Saat ini, dia sedang melanjutkan studinya di jurusan ilmu komunikasi, agak melenceng dari mimpinya sejak kecil. Bukan agak, tapi sangat. Namun dia tetap menjalaninya, menikmati dan merasa semua ini baik-baik saja.

Sabtu sore, Wiki mengirim surat dan bercerita banyak tentang seorang wanita. Dia pemalu, sehingga hanya berani menceritakan pengalaman ini melalui surat, itupun hanya kepada teman terdekatnya.

Mau tau isi suratnya?

Begini..

---------

Bekasi, 6 Januari 2016.

Untuk sahabat yang hanya hidup di kepalaku.

Dino.

Assalamualaikum, No.

Gimana keadaanmu di sana? Kemarin aku dapet kabar kalau kamu menetap di Kalimantan Timur, ya? Jauh sekali. Semoga ada orang baik yang senantiasa memperlakukanmu dengan baik.

Karena kebaikan yang bertemu kebaikan lain akan menghasilkan hal-hal baik.

Oh iya, No. Ngomong-ngomong, aku mau cerita nih.

Jadi, aku—hm, gimana cara jelasinnya ya.

Begini lho, No.

Baru-baru ini, aku sedang mengamati dan mengagumi seseorang. Dia cantik—yah, aku nggak tau menurutmu gimana—tapi dia bener-bener cantik. Dia gadis yang hatinya terpaku pada islam. Caranya berpakaian, bertutur, berjalan, memberiku keyakinan pada pesona dalam sikapnya.

Dia cantik dalam balutan islam.

Seperti pepatah Arab yang berbunyi Hubbu kassyay a yu’mii wayutsimmu. Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.

Tentu dia mampu membuatku buta dan tuli, No. Buta dalam keindahan; tuli dalam titik kebaikan. Bahwa aku tak mampu memandangnya dari dekat. Tak mampu, karena kepatuhanku pada islam.

Dino, kau pernah melihat bagaimana remaja saling bergandengan tangan dengan kekasihnya? Bersama-sama pergi ke tempat wisata dan saling berpandangan? Aku tak mampu seperti itu, No. Gadis yang kukagumi tidak memandang cinta semurah itu. Bahkan tanpa menyentuhnya, bila benar-benar cinta, romansa mampu tumbuh melalui do’a.

Sahabatku, kau sedang berada di pulau jauh. Kalimantan Timur. Jelas suaramu tak akan mampu kudengar. Bahkan sekeras apapun kau teriak, gaungannya tak mampu kutangkap. Dino, kumohon, kirimkan do’a dari pulau seberang. Kirimkan dalam ketulusan seorang kawan. Tentang rasaku padanya, semoga dapat diikat dengan tali keislaman.

Dia adalah gadis yang baik.

Jika aku belum baik, semoga dia mampu memperbaiki.

Do’akan, agar kelak kami mampu menangis bersama; meneteskan air mata di atas lembaran Qur’an. Bahwa kami hanya hamba, yang ditakdirkan untuk ditemukan, bukan menemukan.

Dino, sahabatku yang baik hati, suatu hari nanti kau juga akan merasakannya—jatuh cinta kepada gadis yang membawamu pada hal baik. Dan bila saat itu tiba, tulis saja sebuah surat. Tulis sebanyak-banyaknya. Hingga kau lelah. Lalu kirimkan. Bahwa kita adalah orang yang sama, dan kau tumbuh dalam imajinasiku saja.

Terima kasih telah membaca ceritaku, No. Kalau kami benar-benar bersanding; menjadi pasangan yang saling melengkapi dan dilengkapi, izinkan aku untuk mengenalkannya padamu.

Seorang gadis, yang namanya mampu kau jumpai di dalam Qur’an.

Salam,

Sahabatmu yang tinggal di Bekasi,

Wiki.

-----

Aku melipat surat yang Wiki kirimkan. Betapa aku sangat menyukai cara dia mengagumi wanita. Suci dan mampu menjaga fitrah-nya.

Qur’an adalah lembar-lembar pertimbangan, begitu katanya. Sebab seorang gadis, yang rela menukar waktu kosongnya untuk membaca Qur’an, akan rela menukar waktu-waktu lainnya untuk dihabiskan berdua.

Entah apa, tapi itu yang dia katakan.

Suatu hari nanti, jika aku pulang ke Bekasi dan bertemu Wiki, aku akan memeluknya dan berkata,

“Kau benar, Allah telah menyebut nama gadis itu—entah berapa kali—di dalam Qur’an.”

Senin, 04 Januari 2016

Januari ini Milikmu

Kudengar sebentar lagi usiamu bertambah. Cepat sekali. Padahal baru kemarin aku hadir untuk merayakan ulang tahunmu yang ke-18. Waktu berlalu dengan cepat. Lebih cepat dari yang kubayangkan sebelumnya. Dan kuharap kau masih ingat bahwa ada lelaki yang bermain gitar di bawah hujan. Bernyanyi. Dan kau mengira bahwa lelaki itu adalah pengamen.

Kau ingat?

Ibu menyuruhmu membawakanku uang. Memang, peduli kepada pengamen itu perlu. Tapi saat itu, aku bukan pengamen. Meski sebenarnya, kondisi dan penampilanku kala itu benar menyerupai pengamen.

Aku masuk ke dalam rumahmu, mencoba memberi kejutan dengan membawakanmu kue buatanku. “Tadi hujan deras,” ucapku dalam hati. “Pasti kuenya rusak.”

Aku membuka kotak kue. Sangat hati-hati hingga kau harus menunggunya lebih lama.

“Kuenya agak rusak,” kataku saat itu. “Maaf ya.”

Kamu tidak kecewa, apalagi marah. Aku suka caramu menahan tawa ketika menyadari ada hal ganjil di kue itu. “Kamu lupa umurku?”

“Kamu,” kataku. “18 tahun, kan?”

“Tapi lilin yang kamu taruh gak bilang gitu.”

Aku mengangkat kotak kue, mengeluarkan isinya sebelum aku pindahkan ke piring berukuran besar. “Oh iya,” kataku, menyadari sesuatu. “Kok 81 tahun sih?”

“Emang aku keliatan setua itu ya?”

Tidak, kamu tidak terlihat tua. sama sekali tidak. aku hanya keliru meletakkan lilin itu, keliru tidak berarti lupa, kan? Kalau aku tidak keliru, mungkin aku tidak akan melihat gelak tawamu. Semesta kadang menarik, mampu mengubah peristiwa dan menempatkannya pada ruang dan keadaan yang lebih baik.

Mungkin kau gagal mengingat peristiwa ini. Mungkin saja. Karena kebaikan ini telah digantikan oleh kebaikan baru yang lebih tinggi; yang lebih membuatmu bahagia. Aku tak ingin diingat, tapi juga tak ingin dilupa. Kau dalam genggaman pelindung baru. Dalam usia yang lebih dewasa, kau dalam rengkuh, kasih, dan sayangnya. Bahwa kau layak mendapat kebahagiaan ini. tentang usiamu, ulang tahunmu, dan kejutan yang dia berikan.

Maukah kau menceritakannya padaku?

Atau menulis sebuah surat dan kau titipkan pada kawanmu?

Jika kau menolaknya, tak apa. Aku tidak memaksa. Usiamu sudah dewasa, kau tau langkah apa yang harus dipilih.

Tentang ulang tahunmu, aku mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga kebaikan senantiasa menyapa. Dari pagi hingga malam dan dari malam hingga pagi, warna-warni kebahagiaan melebur dalam satu rasa. Kelak, bila kau benar-benar lupa denganku, kue itu akan mengingatkanmu, bahwa aku adalah lelaki pertama yang memberi ucapan ‘selamat ulang tahun ke-81’ padamu, di usia kita yang baru menginjak 18 tahun.

Bekasi, 5 Januari 2016.
Dariku, lelaki yang kau kira pengamen.

Minggu, 06 Desember 2015

Untuk yang Sibuk Menunggu

Saya sedang bersama sepupu ketika menulis ini. Dia adalah gadis baik yang hatinya sering dihantam oleh lelaki terdekatnya. Saya bertanya mengapa ini terjadi, dan dia menjawab: tidak semua kata mengapa harus dijawab dengan karena.

Inikah yang disebut konsep percintaan? Di mana orang baik sulit sekali menemukan kebaikan lain.

Sepupu saya belum mau menjawabnya, dia malah bertanya, “Bagaimana deskripsi wanita idamanmu?”

“Apakah pertanyaan ini mengacu ke arah fisik?” kataku. “Apakah di usiaku sekarang, fisik masih perlu dipertimbangkan?”

“Tidak juga,” katanya, sambil memilin sedotan di bibirnya. “Tapi bohong bila tidak.”

“Aku suka wanita tanpa make-up,” aku tidak tau, apakah ini dapat dikategorikan sebagai fisik atau tidak. Tapi, hanya ini kalimat yang mampu kutemukan. “Aku suka wanita yang matanya cerah, senyumnya ikhlas, dan, yah, ini terdengar aneh, tapi aku suka wanita yang wajahnya berminyak. Dia terlihat—“

“Sederhana?”

“Tentu saja.”

“Kamu suka sosok wanita sederhana?”

“Sederhana tapi cerdas,” kataku. “Sulit sekali menemukan sosok seperti ini.”

“Perkara cantik?”

“Cantik saja?” kataku, “waria Thailand juga mampu.”

Sepupu saya tak sanggup menahan tawa, dia mencoba menutupinya dengan telapak tangan. Tiga detik, lalu dia kembali bertanya. “Menurutmu, cerdas itu apa?”

“Makna cerdas itu luas sekali, mbak.” Jawabku. “Wanita yang mampu memposisikan dirinya di antara pilihan sulit adalah wanita cerdas. Dia yang mampu bercerita tentang hal kesukaannya hingga matanya berbinar, seakan berusaha untuk meyakinkanku, itu juga cerdas. Dia yang tau banyak hal, itu juga cerdas. Dia yang membaca banyak buku, itu juga cerdas. Atau sederhananya, dia yang mampu bersikap baik dan santun, itu juga cerdas. Aku pengagum wanita jenis ini, mbak. Sulit sekali betemu dengan wanita ini. Namun, ketika aku berhasil menemukannya, aku malu.”

“Minder?”

“Minder muncul melalui akal, malu muncul melalui rasa.”

“Apa bedanya?”

“Menurutmu, apa?”

Hujan mulai reda, aku dan sepupu terpaksa meninggalkan meja ini. Namun, sebelum kami benar-benar beranjak, dia memberiku satu pertanyaan pamungkas.

“Han,” katanya. “Apakah wanita yang kau dambakan benar ada? Jika iya, bagaimana caramu menjemputnya?”

Aku menatap matanya tajam-tajam, seakan memberi penekanan tentang kalimat yang ingin kusampaikan.

“Dengan cara memantaskan diri, mbak,” jawabku. “Itu saja.”

Bekasi, Di Atas Bangunan Berlantai Lima, 7 Desember 2015.
Dariku, penunggu yang sedang menunggu.

Selasa, 10 November 2015

Ah, Brengsek

Seorang gadis meracau di tempat umum dengan kening yang dikerutkan. Mengeluh tentang lelakinya. Mengeluh tentang kisah cintanya. Kepalanya diaduk oleh tangan-tangan sahabatnya.

“Kenapa sih, cowok gue begitu?”

Perhatikan, berapa banyak lelaki yang berkamuflase di depan wanita? Seratus, seribu, sejuta? Jelas lebih dari itu. Di depan teman dan wanitanya, mereka tampil dengan balutan berbeda. Saat di samping wanita, perkataan kasar yang melayang-layang mendadak terhempas oleh angin. Mereka mampu berubah dalam hitungan detik.

Wanita itu, masih meracau di depan sahabatnya.

Tidakkah wanita sadar, bahwa lelaki terlahir sebagai bajingan sejati? Dengan bakat berbohongnya, dia menjanjikanmu masa depan cemerlang. Semangatnya seolah nyata, hingga kutipan Steve Jobs seakan tak mampu menandinginya. Semangatnya yang palsu, berhasil merengkuh hatimu.

Tapi lihat, lelaki yang menjanjikan masa depan itu malas berbuat apa-apa. Kasurnya yang empuk tak pernah gagal menggodanya. Dari pagi hingga malam, ketika ia mencoba meyakinkanmu tentang masa depan, kasur itu selalu bersamanya.

Brengsek, bukan? Pria dengan masa depan cemerlang, tidak pernah berbuat seperti itu.

Namun apa kenyataannya? Wanita lain mudah luluh. Mereka bersembunyi di balik parasnya yang elok. Dengan dalih rasa sepi, mereka menerima cintanya. Menyambut kebrengsekan yang belum tampak. Kemudian jari mereka saling bertautan, mengucap kata rindu, dan berujung pada tamparan di pipi wanita.

Tidakkah kebodohanmu itu perlu dipertanyakan, wanita? Kau berkata semua lelaki itu sama, kau tampil dengan busana terbuka—seakan menyajikan hiburan bagi para lelaki. Namun sadar atau tidak, kau akan terus diperlakukan dengan murah. Bahkan rahim milikmu, akan mereka anggap semurah itu. Mereka rela memertaruhkan harga diri keluarga, demi tidur seranjang denganmu.

Kenapa lelaki selalu brengsek dan wanita selalu bodoh?

Aku melihat banyak sekali lelaki yang melingkari tangannya di lengan wanita. baik memang, sampai-sampai aku iri. Tapi bagaimana dengan jemari sebelah kanannya? Ia memainkan sebatang rokok dengan asap yang mengepul di udara. Perbincangan mereka diwarnai dengan asap. Bukan perbincangan penting menurutku. Pasangan seperti mereka, hanya senang membahas seks, atau hiburan-hiburan malam yang menurutnya memberi ketenangan.

Tidakkah hatimu mudah luluh kepada lelaki yang memakai jaket kulit dan mengendari motor besar dengan knalpot yang menggerung-gerung? Kau berteriak di hadapan teman-temanmu, memuji ketampanannya, dan berdoa untuk tetap didekatkan.

Kau tau, Tuhan tidak senang mendengar doa-mu. Bukan karena Dia tidak sayang, tapi Dia tidak ingin kau terjebak pada cinta yang salah.

Keesokan paginya, kau duduk di jok belakang motor tadi. Melingkari kedua tanganmu di badan si pria. Dari pagi hingga sore, kalian bertukar kalimat mesra. Kau jatuh terlalu dalam, hingga dasar, dan memberi keyakinan bahwa ini memang cinta. Tapi bagaimana dengan jam malamnya? Ah, tentu saja, dia sedang berpelukan dengan gadis lain, sambil berpikir, kira-kira kalimat mesra apa yang akan dia ucapkan padamu besok.

Oh, semesta, kenapa lelaki selalu brengsek dan wanita bangga dengan kebodohannya?

Lelaki yang bertanggung jawab selalu diasingkan. Dibuang dan diludahi oleh wanita-wanita cantik. Namun dia, kuingatkan kepadamu, namun dia, tidak butuh wanita cantik. Maksudku, mungkin saja kecantikanmu hanya beralas bedak, lipstik, atau pensil alis. Namun di luar sana, banyak wanita-wanita yang tidak berorientasi ke arah sana. Wanita-wanita cerdas, tentu saja. Karena peralatan makeup-mu hanya berhasil menutupi kekurangan fisikmu, bukan moralmu.

Untuk wanita, yang selalu dibohongi lelaki, pukullah kepalamu dengan kepalan tangan. Agar kamu sadar, jika cinta bukan berawal dari kalimat, “Tampan sekali dia.” Tapi dari kalimat-kalimat lain, yang tak berani kau ucapkan dengan bibir.

Cinta identik dengan rasa malu.

Dan bajingan-bajingan di luar sana, aku berani bertaruh, tidak sedikit pun memiliki rasa malu.

Ah, sial. Apa yang baru saja kautulis, Farhan?

Beristirahatlah. Kau lelah. Jangan meracau. Takutnya, wanita yang membaca ini, akan benci denganmu.

Bekasi, 11 November 2015
Dariku, yang bingung menulis apa.